Harga Daging Sapi Melonjak Naik, TPID Provinsi Maluku Ambil Langkah Konkret

Dalam upaya bersama menjaga kestabilan harga dan stok barang kebutuhan pokok Menjelang Natal 2020, maka Satgas Pangan Provinsi Maluku didampingi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku melakukan sidak yang terfokus pada Pasar Tradisional Mardika,Ambon.

Sidak bersama yang dilakukan merupakan tindak lanjut dari Rapat TPID di Kantor Gubernur Maluku, Senin,07 Desember 2020 yang membahas beberapa permasalahan, salah satunya terkait kenaikan harga Daging Sapi, dimana dalam beberapa minggu ini komoditas Daging sapi mengalami kenaikan harga yang signifikan dari rata-rata Rp.100.000,- per kg yang sudah bertahan selama 3 (tiga) tahun ini, menjadi Rp.120.000,- per kg.

Dari pantauan di lapangan, Tim yang di pimpin oleh Kepala Dinas Perindag Maluku ini mendapatkan informasi dari salah satu pedagang di los Daging pasar Arumbai, Haji Amir yang menyampaikan bahwa selama hampir 2 (dua) bulan ini terjadi kekurangan pasokan daging sapi dari sentra lokal Pulau Seram dan Pulau Buru. Dari sentra Pulau Seram khususnya Kobisonta lewat pelabuhan Kobisadar ternak sapi diperdagangkan kepada pembeli dari Provinsi Papua Barat. Sementara dari sentra Pulau Buru, Pembeli membawa ternak sapi melalui pelabuhan Waikasa ke Makassar dan Pulau Kalimantan. Pasokan sebelum terjadinya kenaikan harga, setiap harinya dapat mencapai maksimal 20 ekor, tetapi sejak terjadinya distribusi keluar wilayah Provinsi Maluku ini, pasokan perhari hanya mencapai 2-5 ekor saja.

Atas laporan ini, TPID Provinsi Maluku langsung mengadakan koordinasi ke sentra-sentra produksi lokal tersebut lewat saluran komunikasi dengan kepala dinas pertanian dan juga kepala dinas perdagangan di kabupaten Seram Bagian Timur dan Buru, untuk sedapatnya memantau langsung ke peternak dan membatasi penjualan ternak sapi keluar Provinsi Maluku sebelum pasokan di dalam Provinsi terpenuhi.

Tim juga memantau perkembangan harga komoditas Cabe Rawit Merah yang hari ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan, yakni naik menjadi rata-rata Rp.86.667,- per kg. Penyebab kenaikan ini dipicu oleh kekosongan stok Cabe rawit merah di pasar, karena tidak masuknya pasokan dari sentra lokal Pulau Seram dan Pulau Buru serta Sentra luar daerah Bau Bau dan Makassar. Tim segera berkoordinasi dengan Remon salah satu pedagang besar Cabe dan Bawang di Pasar Mardika, yang menyampaikan bahwa informasi yang diperoleh dari sentra Pulau Buru, bahwa produksi Cabe rawit merah sementara turun drastis, yang disebabkan karena umur tanaman yang sudah cukup tua sehingga tidak lagi produktif, dan butuh peremajaan tanaman. Untuk memenuhi permintaan di pasar lokal, pedagang berinisiatif memasukkan pasokan dari luar daerah yang diperkirakan akan masuk pada hari Selasa, 08 Desember 2020 dengan menggunakan kapal penumpang KM. Dobonsolo milik PT. Pelni sehingga harga Cabe rawit merah akan turun sesuai pasokan tersebut.

Komoditas pantauan yang juga mengalami kenaikan harga adalah Daging Ayam Broiler yang naik menjadi Rp.32.000,- per kg. Penyebab kenaikan harga adalah naiknya modal distributor seiring dengan kenaikan harga dari sentra produksi Jawa Timur dari Rp.1.300.000,- per karung @50kg atau Rp.26.000,- per kg menjadi Rp.1.400.000,- per karung @50kg atau Rp.28.000,- per kg.

Selanjutnya Tim ke Gudang salah satu Pemasok barang kebutuhan pokok yang berlokasi di Ruko Pasar Mardika depan Hotel Wijaya 2, yaitu  TOKO ABDUL, dimana Tim bertemu dengan Ridwan, pemilik usaha yang menjelaskan bahwa pada saat ini stok barang khususnya Bawang merah dan Bawang putih sudah hampir habis, dan pasokan berikutnya baru akan tiba hari Senin, 14 Desember 2020. Stok Bawang merah saat ini hanya tersisa 300 kg dengan harga jual kotor Rp.30.000,- per kg dan bersih Rp.38.000,- per kg. Bawang putih tersisa 1.000 kg dengan harga jual Rp.20.000,- per kg dan bersih Rp.24.000,- per kg. Tim berkoordinasi dengan sentra Bawang merah lokal dan mendapatkan informasi bahwa dalam bulan Desember ini akan dipanen sebanyak 40 hektar lahan tanam yang sebagiannya untuk memenuhi kebutuhan dalam Provinsi Maluku dan sisanya dipasarkan ke Provinsi Papua dan Papua Barat.(hyt)