AMBON – Pemerintah Provinsi Maluku resmi melepas ekspor perdana hasil hutan bukan kayu berupa kopal damar dan rempah pala ke pasar internasional, Rabu (24/9). Prosesi pelepasan dilakukan di Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, ditandai dengan penyiraman air kelapa pada kontainer oleh Gubernur Maluku bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan RI, Mahfudz, M.P., setelah sebelumnya dilakukan penyerahan dokumen ekspor secara simbolis.  

Dalam pengiriman perdana ini, tercatat 30 ton damar dengan tujuan India senilai Rp570 juta, serta 15 ton pala yang dikirim ke Cina melalui Surabaya dengan nilai Rp1,6 miliar. Seluruh produk berasal dari kelompok usaha perhutanan sosial di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, dan Kota Ambon. 

Rincian Kontribusi Produksi

  • Damar: LPH Desa Rambatu (9 ton), KTH Tawena Siwa (6 ton), LPH Desa Morella (6 ton), dan KTH Sorebang (9 ton).  
  • Pala: Masyarakat hukum adat Negeri Hutumuri (5 ton), LPH Desa Morella (3 ton), serta kawasan hutan Pulau Ambon (7 ton).  
  • Ekspor ini juga memberikan dampak langsung pada penyerapan tenaga kerja lokal, yakni 105 orang di sektor damar dan 60 orang di sektor pala.  
 

Dukungan Pemerintah Daerah dan Pusat

Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menegaskan bahwa capaian ini merupakan bukti nyata kerja keras masyarakat melalui skema perhutanan sosial.  

Pelepasan ekspor ini adalah pencapaian luar biasa, hasil dari sinergi kita semua. Maluku dengan 3,9 juta hektar hutan atau 84 persen daratan, memiliki potensi besar hasil hutan kayu maupun non-kayu untuk menopang perekonomian daerah,” ujarnya.  

Sementara itu, Sekjen Kehutanan Mahfudz, M.P., yang hadir mewakili Menteri Kehutanan, menekankan bahwa ekspor perdana ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto.  

Perhutanan sosial bukan hanya untuk pengentasan kemiskinan, tapi juga solusi adaptif menghadapi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan,” ungkapnya.  

Potensi Perhutanan Sosial di Maluku

Hingga tahun 2025, di Maluku telah diterbitkan 171 Surat Keputusan perhutanan sosial dengan luas mencapai 240 ribu hektar, melibatkan 33 ribu kepala keluarga, dan menghasilkan nilai transaksi ekonomi sebesar Rp3,85 miliar.  

Momentum Kebangkitan Ekonomi

Ekspor perdana damar dan pala ini dipandang sebagai momentum penting kebangkitan ekonomi masyarakat Maluku. Lebih dari itu, peristiwa ini meneguhkan kembali identitas Maluku sebagai lumbung rempah dunia, sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan hutan secara lestari dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (MCIndag_Hyt-BP)

en_USEnglish